53 Ekor Kuda Berpacu di Final Piala Bupati TTU XIl

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Sebanyak 53 ekor kuda yang berhasil lolos di babak penyisihan dan semifinal akhirnya bertarung pada final lomba Pacuan Kuda Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Cup XII tahun 2016.

Lomba pacuan kuda memperebutkan Piala Bupati TTU XII itu berlangsung selama empat hari, dari tanggal 4 sampai 7 Agustus 2016 di Arena Pacuan Kuda Tanjung Bastian, Wini, Kecamatan Insana Utara, TTU.

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandez mengatakan jumlah kuda yang dilombakan pada event tersebut sebanyak 121 ekor pada 10 kelas berbeda dan lomba itu melewati tiga tahapan yakni babak penyisihan, semifinal dan final.

“Kuda yang dilombakan dan masuk pada babak final sebanyak 53 ekor, sedangkan sebagiannya tidak berhasil melewati dua babak sebelumnya,” kata Raymundus kepada wartawan di sela- sela acara puncak atau final lomba, Minggu (7/8).

Raymundus menjelaskan, panitia lomba mengundang peserta dari hampir semua kabupaten/kota di Provinsi NTT bahkan juga negara tetangga Timor Leste, namun hanya tiga kabupaten saja termasuk tuan rumah yang mengambil bahagian dalam event tahunan kali ini. Pasalnya, hampir pada momen yang sama di beberapa daerah juga sedang menggelar event yang sama.

Dia menyebutkan selain TTU sebagai tuan rumah, dua kabupaten lain yang ikut memeriahkan lomba yakni Kabupaten Kupang dan Kabupaten Belu. Masing- masing dengan membawa kuda sebanyak untuk TTU 62 ekor, Kabupaten Kupang 26 ekor dan Kabupaten Belu 33 ekor, sehingga totalnya sebanyak 121 ekor.

“Tahun ini jumlah pesertanya tidak terlalu banyak karna ternyata di kabupaten lain seperti Rote dan daratan Sumba juga sementara menggelar lomba. Timor Leste juga tahun ini absen, padahal tahun-tahun sebelumnya selalu ikut meramaikan event ini,” katanya.

Raymundus menjelaskan, kegiatan lomba pacuan kuda yang diselenggarakan di TTU tersebut rutin dilakukan setiap tahun dimulai sejak tahun 2004 silam dan  sudah menjadi agenda wisata tetap dari pemerintah daerah setempat.

Selain untuk mendorong masyarakat untuk beternak kuda, Raymundus menyebut event tersebut untuk merangsang pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. Lomba pacuan kuda ini sebagai hiburan rakyat sekaligus tujuannya adalah untuk melestarikan kembali budaya pacuan kuda.

“Karena populasi kuda saat ini semakin hari terus berkurang. Dengan event ini kita harapkan masyarakat kembali terpanggil untuk memelihara dan melestarikan kembali budaya dan juga membina keakraban antara sesama pemilik kuda, pemelihara kuda dan juga masyarakat umumnya,” katanya.

Raymundus menambahkan terkait fasilitas infrastruktur, pemerintah akan terus melakukan penataan guna menjadikan lokasi tersebut lebih representatif dan berdaya guna melalui kerja sama dengan pihak ketiga untuk pengelolaan kawasan wisata Pantai Tanjung Bastian.

“Tentunya pihak ketiga punya perencanaan untuk pengembangan pariwisata di tempat ini. Kegiatan pariwisata yang dilaksanakan di tempat ini cukup banyak, hanya saja lokasi ini masuk dalam kawasan hutan, karena itu kita masih berproses untuk izin pinjam pakai dari Kemeterian Kehutanan,” tandasnya.