Tingkat Kesejahteraan Petani di NTT Menurun

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Tingkat kesejahteraan petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diukur berdasarkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Juli 2016 mengalami penurunan sebesar 0,21 persen.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Maritje Pattiwaellapia kepada wartawan di Kupang, Senin (1/8).

Maritje mengatakan penghitungan NTP ini mencakup lima subsektor, yaitu subsektor padi dan palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.

“Jadi berdasarkan NTP bulan Juli kemarin itu, kemampuan atau daya beli petani di daerah terjadi penurunan yang cukup besar yakni 0,21 persen,” katanya.

Dia menjelaskan, pada bulan Juli 2016, NTP Nusa Tenggara Timur sebesar 100,46 dengan masing- masing subsektor tercatat sebesar 100,49 untuk subsektor tanaman pangan dan 98,39 untuk subsektor hortikultura.

Sedangkan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 95,61 dan 106,54 untuk subsektor peternakan. Sementara untuk subsektor perikanan sebesar 104,02.

Menurut Maritje, di daerah perdesaan terjadi inflasi pada bulan Juli 2016 sebesar 0,21 persen. Sub kelompok Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi tertinggi yaitu sebesar 0,95 persen.

“Nah untuk inflasi terendah terjadi pada sub kelompok transportasi dan komunikasi yaitu sebesar 0,05 persen,” jelas Maritje.

Lebih lanjut Maritje menyampaikan, NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/ daya beli petani di pedesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP secara relatif semakian kuat pula tingkat kemampuan/ daya beli petani.

“Berdasarkan hasil pemantauan harga- harga pedesaan di NTT pada Juli 2016, NTP di NTT mengalami penurunan dibanding bulan Juni 2016 yakni sebesar 0,21 persen.” jelasnya.

Dia menambahkan, hal ini disebabkan karena terjadi penurunan pada indeks harga hasil produksi pertanian dan terjadi peningkatan pada indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.