Sang Saka Merah Putih Berkibar di Ketinggian Batas Negara

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Satuan tugas pengamanan perbatasan (Pamtas) RI-RDTL Sektor Barat Yon Raider 321/GT dari pos Baen menggelar upacara bendera di perbatasan RI – RDTL tepatnya di puncak bukti Fiso dengan memasang bendera merah putih berukuran 3 x 2 meter. Pemasangan bendera berukuran jumbo dilakukan menyambut HUT RI ke-71 sekaligus mengenang jasa para pahlawan.

Kali ini anggota Satgas Yon Raider 321/GT melibatkan warga desa Nainaban, Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, mengibarkan bendera di puncak bukit Fiso yang berbatasan langsung dengan distrik Oecusse negara Timor Leste. Upacara pengibaran bendera sederhana itu diikuti warga masyarakat dengan pakaian seadanya, berselimut kain adat usang dengan celana pendek tanpa alas kaki.

Meski mereka tak bisa mengikuti berbagai kegiatan meriah pada HUT Kemerdekaan RI di kota, namun kecintaan warga pada Indonesia terlihat pada pengibaran sang saka yang diikatkan di ujung ketinggian bambu setinggi 25 meter. Itulah yang tercermin dari wajah warga perbatasan dalam suasana upacara bendera penuh haru, Senin, 01/08/2016.

Sebelumnya, warga bersama-sama TNI mengusung tiang bambu berukuran 25 meter dari pos Baen. Perjalanan sejauh 3 kilometer yang mendaki ditempuh hanya dalam waktu 45 menit. Penanaman tiang bambu dan mengikat tali bendera juga dilakukan TNI bersama tokoh adat desa setempat, termasuk pelajar. Mereka berjanji akan ikut menjaga sang saka agar tak sampai dirusak oleh pihak tak bertanggungjawab.

Komandan satgas Pamtas RI – RDTL Sektor Barat Yon Raider 321/GT Letkol. Inf Mohammad Ghoffar, mengatakan selain sebagai wujud cintanya masyarakat perbatasan terhadap NKRI, pengibaran bendera sekaligus memupuk rasa nasionalisme warga desa perbatasan dalam menyambut HUT RI ke-71. Bendera merah putih berukuran 3 x 2 meter ini akan dibiarkan berkibar selama sebulan penuh.

Senada dengan warga desa setempat, Letkol. Inf Mohammad Ghoffar menghimbau kepada seluruh warga di sekitar bukit Nainaban untuk menjaga agar bendera tidak sampai rusak kecuali karena faktor alam.

“Upacara bendera yang digelar, merupakan wujud nyata cinta masyarakat perbatasan terhadap NKRI, sekaligus memupuk rasa nasionalisme yang tinggi dalam menyambut HUT RI yang ke-71,” ujar Ghoffar.

Sebelum dilangsungkan Upacara pengibaran bendera merah putih, terlebih dahulu digelar ritual adat di puncak bukti Fiso dengan pembunuhan seekor ayam jantan dan darah ayam dioles di atas sebuah batu sebagai persembahan untuk para pahlawan yan telah gugur di medan perang.

“Tujuan diadakan ritual adat ini untuk meberitahukan kepada leluhur bahwa kita akan menaikkan bendera merah putih menjelang 17 Agusutus. Kami memilih tempat ini, karena disinilah letaknya prajurit kami asal desa Nainaban berperang melawan Timor Leste demi mempertahankan NKRI. Sekaligus sebagai suatu pemberitahuan kepada saudara – saudara kami di Timor Leste yang bisa melihat kibaran bendera Merah Putih bahwa kami sudah akan memasuki HUT NKRI yang ke – 71”, jelas salah satu tokoh masyarakat desa Nainaban, Sipri Yoseph Mona.

Berkaitan dengan masih adanya batas wilayah dua negara yang belum jelas di kecamatan Bikomi Nilulat dan beberapa titik perbatasan di sektor barat, warga desa Nainaban berharap agar pemerintah pusat dapat segera mengambil tindakan preventive dengan menetapkan batas wilayah kedua negara secara jelas. Permintaan ini beralasan karena di wilayah itu kerap terjadi perselisihan dan salah paham hingga berujung perang tanding saling mengklaim Kepemilikan tanah leluhur pada wilayah sekitar.

“Karena masih ada tanah yang menjadi sengketa antara kami dan warga desa sebelah dalam Oecusse Timor Leste, kami minta perhatian serius pemerintah pusat untuk segera menetapkan batas tanah yang betul. Agar kami tidak berperang lagi,” pinta Marcelinus Kusi Sara S. Pt, Camat Bikomi Nilulat.

Bendera berukuran besar yang berkibar di atas ketinggian bukit di daerah perbatasan itu bisa dilihat dari jarak 25 kilometer, termasuk oleh warga districk Oecusi Timor Leste dan beberapa desa kecamatan Bikomi Nilulat. Semoga itu mampu mendorong warga di daerah perbatasan untuk semakin mencintai negerinya dengan tetap mempertahankan sejengkal tanah air Republik Indonesia.

Pengibaran bendera ukuran besar di puncak bukit Fiso ini, sudah untuk yang kedua kali dilaksanakan. Pengibaran perdana tahun 2016 lalu menggunakan bendera ukuran 5 x 2,90 meter di atas ujung bambu setinggi 21 meter. Dan pada tahun kedua ini bendera yang dikibarkan berukuran 3 x 2 meter yang diikat pada ujung ketinggian bambu setinggi 25 meter.