Realisasi Bantuan Perpipaan Pengelolaan Air Minum Provinsi NTT Salah Sasaran

Bagikan Artikel ini

Realisasi bantuan perpipaan pengelolaan air minum Provinsi Nusa Tenggara Timur, (prov-NTT), melalui Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya, (Dirjen-Cipta Karya), Republik Indonesia kepada masyarakat berpenghasilan rendah di Kabupaten Rote Ndao yang dikerjakan oleh PT Karang Teguh Abadi salah sasaran.

Pasalnya, proyek senilai lebih kurang Rp 6 milya tersebut dalam realisasi bantuannya tidak ditujukan kepada masyarakat berpenghasilan rendah melainkan terhadap lembaga dan invidu yang kehidupannya sudah mapan, demikian pantauan wartawan, Sabtu, (16/01) di Kompleks Universitas Nusa Lontar Ba’a Rote Ndao.

Direktur PT Karang Teguh Abadi, Ir. Vivo Ballo, yang hendak dikofirmasi, Minggu, (17/01), oleh wartawan di kediamannya di perumahan Artha Graha Kupang, tidak berada di rumah. Wartawan yang telah mendatangi rumah Vivo Ballo, oleh istrinya yang mengetahui kedatangan wartawan, tidak menunjukan sikap bersahabat. Melainkan ketika melihat kehadiran wartawan langsung beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke dalam rumah.

Wartawan yang berdiri diluar pagar rumah kemudian didatangi seseorang anak gadis yang dari kasat mata tidak lain adalah pembantu dirumah kontraktor Vivo Ballo mempertanyakan kehadiran wartawan bahwa mau ketemu siapa dan apa keperluannya.
Lalu setelah diberitahu maksud dan tujuan oleh wartawan, anak gadis langsung pergi. Lebih kurang setengah jam, datang lagi anak gadis dengan membukakan pintu dan mempersilahkan wartawan masuk.

Wartawan yang melangkah masuk di ruang teras langsung dicecar pertanyaan oleh istri kontraktor Vivo Ballo bahwa mau perlu siapa, dari koran mana dan keperluan apa.

Mendengar nada dan isi pertanyaan sangat tidak berbudaya timor, maka secara spontan salah satu wartawan online langsung menyampaikan maksud kedatangan wartawan untuk mewancarai suaminya terkait pelaksanaan pekerjaan perpipaan di Kabupaten Rote Ndao yang salah sasaran dan belum selesai. Dan kedatangan wartawan dari Rote Ndao guna menemui kontrakto Vivo Ballo dirumahnya adalah bentuk dari sebuah niat baik namun bila dinilai lain maka sebaiknya wartawan pergi.

Mendengar perkataan demikian, barulah istri dari Vivo Ballo ini mempersilahkan duduk kepada wartawan. Setelah wartawan duduk, istri kontraktor Vivo Ballo kemudian mengatakan bahwa dia baru saja menelepon suaminya dan dikatakan sedang diluar daerah sehingga meminta wartawan menuliskan saja nama, asal Koran mana dan berapa nomernya. Kerena Vivo Ballo tidak berada di rumah, kemudian wartawan pun memohon pamit.

Kontraktor Vivo Ballo Ingin “Cuci Tangan”

Sebelum ke rumah kontraktor Vivo Ballo telah lebih dahulu wartawan mengirim sms kepadanya untuk melakukan konfirmasi namun sejak wartawan di rumahnya tidak ada balasan.

Setelah wartawan kembali baru ada balasan sms dari kontraktor Vivo Ballo bahwa untuk keperluan konfirmasi, wartawan bertemu saja dengan pejabat pembuat komitmen, (PPK), Roliviyanti Djamin, ST. Wartawan merasa kontraktor terkesan, “cuci tangan,” sebagai pelaksana maka wartawan membalas sms  bahwa mengapa dirinya harus mewawancara Roliviyanti Djamin, ST, selalu PPK, sedangkan yang melaksanakan pekerjaan adalah pihaknya? Vivo Ballo sampai dengan berita ini diturunkan tidak membalas lagi sms wartawan.