Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah, Capaian MDGs Terancam Gagal

E-mail Print PDF

alt

Laporan Yongki Mauleti
Kupang - Prosentase pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya untuk bayi berusia 0-6 bulan) di Indonesia masih jauh dari harapan. Hal ini bisa mengancam pencapaian tujuan pembangunan milenium (MDGs), untuk menekan angka tingkat kematian anak.

Seperti diketahui, pada tahun 2015, angka kematian anak ditargetkan turun dari kondisi terakhir yakni 41 per 1000 kelahiran hidup, menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup.

“Pemberian ASI Eksklusif yang diteruskan sampai 12 bulan, terbukti mencegah 13% kematian anak. Karena itu, Peringatan Pekan ASI Sedunia kali ini harus dijadikan momentum untuk mendorong pihak keluarga, pemerintah, dan masyarakat agar mendukung program pemberian ASI kepada setiap bayi yang baru lahir,” kata Khrisna Maruti, Manajer Program Kesehatan dan Perkembangan Anak Plan Indonesia, berkaitan dengan peringatan Pekan ASI Sedunia, yang diperingati setiap pekan pertama Agustus (Rabu, 1/8).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2010, di Indonesia hanya 15,3 persen anak yang mendapatkan ASI Eksklusif. Angka ini masih jauh di bawah angka global yang juga rendah, di mana hanya 32,6 persen anak yang disusui eksklusif.

Sebagai organisasi kemanusiaan yang fokus pada pemenuhan hak anak, Plan Indonesia berkepentingan mendorong semua pihak agar mendukung ibu menyusui. Dukungan pemberian ASI bisa dimulai dari setiap individu, keluarga, masyarakat,  dan diperluas hingga menjadi kebijakan pemerintah serta keterlibatan pihak swasta.

”Kami sangat mengapresiasi terbitnya Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 2012 tentang ASI Eksklusif. Dengan PP tersebut hak bayi untuk mendapatkan ASI lebih terlindungi, dan hak ibu untuk menyusui juga lebih terjamin,” jelasnya.

PP itu merupakan salah satu realisasi Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. PP tersebut bertujuan menjamin pemenuhan hak bayi mendapatkan ASI Eksklusif dan melindungi ibu dalam memberikan ASI eksklusif bagi bayinya. ASI melindungi bayi dari risiko infeksi akut seperti diare, pneumonia, infeksi telinga, haemophilus influenza, meningitis dan infeksi saluran kemih. ASI Ekslusif juga melindungi bayi dari penyakit kronis di masa depan seperti diabetes melitus tipe 1.

PP itu juga menegaskan larangan bagi tenaga kesehatan, penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan, penyelenggara satuan pendidikan kesehatan, organisasi profesi di bidang kesehatan dan termasuk keluarganya untuk menerima hadiah atau bantuan dari produsen atau distributor Susu Formula Bayi karena dapat menghambat keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

”Bahkan jelas disebbutkan dalam UU Kesehatan adanya ancaman pidana bagi setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif,” katanya.

Di Grobogan, meski persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif terus meningkat tiap tahun namun masih di bawah 50%. Data Profil Kesehatan Grobogan 2012 menyebutkan, pada 2011 angka bayi dengan ASI eksklusif adalah 38,6% dan tahun ini hingga Juli mencapai 46,4%.

Sedangkan di Rembang pada 2011 angkanya cukup baik yaitu sekitar 3.400 bayi dari total 4.600 bayi berumur 0-6 bulan (73%) mendapatkan ASI eksklusif. Ini berarti meningkat tajam dari 2010 yang baru 39%.

“Memang kuncinya adalah regulasi dan peran masyarakat. Di Rembang sudah ada lebih dari 100 konselor ASI dan juga draft Perbup tentang ASI sudah mulai digodok,” katanya.

Sedangkan di Grobogan menurut Khrisna baru ada sekitar 25 konselor ASI. Plan sudah mulai mendorong pemerintah setempat untuk segera merumuskan regulasi terutama yang terkait dengan peredaran susu formula untuk bayi.


rssfeed
Email Twitter Facebook google YahooWebSzenario
 

Artkel Terbaru

Pengamat: 75% Nama Menteri Tak Sejalan Jokowi

Pengamat: 75% Nama Menteri Tak Sejalan Jokowi

Jakarta, NTTOnline - Pengamat Politik Nusantara... [More...]

Bayi Yang Dibuang Ibunya di Kefamenanu Akhirnya Meninggal

Bayi Yang Dibuang Ibunya di Kefamenanu Akhirnya Meninggal

Laporan Judith TaolinKefamenanu, NTTOnline -... [More...]

RPK Dan IOM Latih Tokoh Masyarakat Cegah Migrasi Tidak Aman

RPK Dan IOM Latih Tokoh Masyarakat Cegah Migrasi Tidak Aman

Laporan Yongki MauletiKupang, NTTOnline - Rumah... [More...]

27 Oktober, Strat A Diberlakukan Satu Arah

27 Oktober, Strat A Diberlakukan Satu Arah

Laporan Yongki MauletiKupang, NTTOnline - Dinas... [More...]

Irpan: Saya Dijanjikan Uang Rp 20 Juta

Irpan: Saya Dijanjikan Uang Rp 20 Juta

Laporan Yansen BauAtambua, NTTOnline - Irpan,... [More...]

Bea Cukai Mota'ain Gagalkan Penyelundupan 2,22 Kg Narkoba

Bea Cukai Mota'ain Gagalkan Penyelundupan 2,22 Kg Narkoba

Laporan Yansen BauAtambua, NTTOnline - Tim Bea... [More...]

Kasus Hibah Tanah Ronda Dalam Proses Pemberkasan

Kasus Hibah Tanah Ronda Dalam Proses Pemberkasan

Kupang, NTTOnline – Tim penyidik Kejaksaan... [More...]

Kejari Waikabubak Diduga Sengaja Perlambat Kasus Bupati Sumbar

Kejari Waikabubak Diduga Sengaja Perlambat Kasus Bupati Sumbar

Kupang, NTTOnline – Hingga saat ini kasus... [More...]

Buronan Kalumban Mali Terus Dicari Kejati NTT

Buronan Kalumban Mali Terus Dicari Kejati NTT

Kupang, NTTOnline -  Hingga saat ini... [More...]

Wawali: Expo Pendidikan Harus Jadi Ajang Unjuk Kreatifitas

Wawali: Expo Pendidikan Harus Jadi Ajang Unjuk Kreatifitas

Laporan Yongki MauletiKupang, NTTOnline - Wakil... [More...]